JAWABAN SANG REMBULAN
CINTA
Kumulai
cerita ini ketika akhir segalanya di salah satu sekolah swasta SMU Medan tempat
aku menimba ilmu waktu itu. Hiruk pikuk sorak gembira teman temanku terluapkan ketika
melihat namanya tertera dipapan pengumuman tanda lulus dari SMU itu. Corat
coret baju pun mewarnai aksi kebahagiaan itu. Namaku Herlina dipanggil Er, kata
teman temanku bodyku montok, berwajah cantik, dengan tinggi proporsional
layaknya pramugari. Tidak heran banyak siswa yang ingin menjadikan aku sebagai
kekasihnya. Akhirnya aku dicap sebagai play girl disekolahan.
Puas meluapkan kegembiraan
disekolah kamipun melakukan pawai dengan kendaraan ke tempat pemandian berbatu
yang terkenal dengan nama tempat wisata Sembahe. Akupun mengendarai sepeda
motor dengan seorang siswa yang kuanggap sebagai kekasihku namanya Uki Prastama,
meski tidak ganteng namun baik dan sangat mengerti dengan semua keinginkanku, cokcok
dengan pria idamanku. Meski banyak mantan mantanku yang erasa cemburu aku cuek
saja ketika aku berboncengan dan kupeluk Uki erat erat.
Aku merasa benci dengan siswa siswa
mantanku itu. Edi, Kalit, Dedi, dan beberapa siswa lagi yang sempat singgah
dihatiku yang kuanggap lebih mementingkan hasrat seks daripada kasih sayang.
Dan akupun memutuskan hubungan ketika mereka minta cium bibirku. Benci..benci..benci..itu
yang ada dihati jika mengingat siswa siswa itu, namun aku hanya ingin hubungan
layaknya teman saja kepada mereka.
Ditempat wisata itu aku dan Uki
mencari tempat yang romantis, sedang teman teman lainya mandi di sungai
berbatuan untuk meluapkan kegembiraan. Kami pun duduk dibalik bebatuan besar
dan sepi di tempat wisata itu. “Er, nanti kamu lanjuti kuliah dimana,” tanya
Uki..“Belum tahu lagi nih, belum ada planning, kalau kamu lanjut kemana,”
jawabku..“ Belum tahu juga masih mikir mikir, bagaimana kita kuliah di ITM
saja,” ajak Uki..“Okey deh, aku sih ngikut kamu aja,” jawabku lagi. Setelah itu
kamipun terdiam dalam kebisuan hanya sepatah kata yang terucap.
Ditengah keheningan itu, tiba tiba
tangan Uki meremas tanganku dan akupun kaget. Sekitar satu menit kami
bertatapan mata. “Er, aku cinta kamu, kamu sangat cantik,” ucap Uki. Kalimat
yang terucap itu membuat hati dan pikiranku melayang terbang bersama
kebahagiaan. Pikiranku melayang sedang tatapan mataku terasa kosong dan ikut melayang
karena ucapan Uki yang begitu romantis. Yah..kata kata yang sangat di inginkan
oleh wanita terhadap kekasihnya.
Ditengah pikiran melayang sedang tinggi,
aku merasakan bibirku terasa hangat dan nikmat, seperti ada sesuatu yang
menyentuh, akupun tersadar. “Mmmmmmucts..mmmmmsst”, Uki mencium bibirku. “Sudah
Ki,” ujarku marah. Ia pun berhenti dan menatap mataku dengan tajam. “Aku sayang
kamu Er, maafkan aku,” ucapnya. Akupun tidak kuasa dengan tatapan matanya
seakan menyentuh hatiku yang paling dalam..terlalu dalam sehingga aku tidak
mampu menatap mata yang penuh cinta dan kasih sayang itu..dan..dan..matakupun
terpejam.
Kembali Uki menyentuh bibirku dengan
jari tanganya..cukup romantic, aku hanya diam dan mulut seakan terkunci dan
tidak mampu untuk mengeluarkan kata kata lagi. Begitu lembut elusan jarinya di
bibirku dan..dua menit kemudian bibirku terasa hangat yang kali ini disentuh
bibir Uki. Aku diam saja dengan cium cium kecilnya.
“Er, Er, kamu dimana,” panggil temanku Suri yang
membuatku sadar dan melepaskan pelukan Uki. “Ooooo, disini kalian rupanya, yuk
kita cabut, teman teman sudah pada beranjak tuh,” ucap Suri. Kamipun beranjak meninggalkan tempat
wisata itu dengan perasaan yang bertanya tanya dalam hati.
Selanjutnya kami selalu bertemu meski hari
berganti hari hingga pendaftaran meneruskan kuliahpun kami lakukan di ITM.
Pertemuan yang kerap kami lakukan membuat kami semangkin di mabuk asmara. Bukan
sekedar cium saja tapi Uki sudah semangkin berani saja menjamah tubuhku dari
ujung rambut hingga ujung kaki ku.
Aktivitas kuliahpun kami jalani. Dan kami
sudah tidak canggung lagi untuk bergandeng tangan dengan mesranya di kampus.
Pulang dari kampus, kami selalu bergantian berkunjung kerumah hingga keluarga
kamipun tahu tentang hubungan percintaan kami. Dan dirumah kami kerap mencuri
waktu untuk melakukan cium kasih sayang. “Kapan rencana menikah kita, apa kamu
tidak pernah berpikir sudah sejauh mana hubungan kita ini,” tegasku..“Sabar ya
sayang,” jawab Uki..Yah..ucapan sabar..sabar..sabar…itu yang selalu keluar dari
mulut Uki ketika aku menuntut tanggung jawabnya.
Malam ketika mau tidur, sering kutatap
rembulan yang bercahaya indah dilangit. Terkadang aku menangis menyesali
hubungan percintaan ini yang kuanggap tidak ada kejelasan. “Rembulan, cahayamu
begitu indah, namun tidak seindah kisah asmaraku. Rembulan, tolonglah aku untuk
menemukan cinta sejatiku,” ucapku di iringi tetes air mata.
Hari hari aktivitas kampusku berjalan
normal. Suatu hari aku diperkenalkan oleh Uki dengan temanya yang berasal dari
Jakarta. Namanya Abeng turunan tionghoa yang ingin mengenyam bangku kuliah di
ITM dan tinggal di kos kosan belakang stadion Teladan. “Er..kenalkan ini
temanku Abeng, nanti satu kampus dengan kita,” ujar Uki. Kami pun berjabat
tangan. Hingga akhirnya Uki menjadi teman akrab Abeng. Akupun turut senang
karena kami selalu pergi bertiga. Kami sering kongkow di café maupun mall untuk
menghilangkan kejenuhan dari aktivitas kampus.
Suatu sore usai kuliah kami bertiga
menghabiskan waktu di depan stadion teladan yang banyak berjajar pedagang
makanan yang lokasinya didekorasi seperti café tenda. Dipandu dengan pohon
pohon besar yang rindang membuat suasana sejuk café dadakan ini. “Kamu mau
minum apa Er, dan kamu Uki, pesan aja,” ujar Abeng. Yah..abeng terkenal royal
dan tidak pelit dengan uang. Sering kami diajak shoping untuk berbelanja
pakaian dan membayarnya. Tidak seperti Uki yang sangat pelit dan perhitungan
denganku, dan aku yang malah sering mentraktirnya.
Namun sore itu, kami bertiga sangat
enjoy bercengkrama dan kerap tertawa dengan topik topik bicara yang lucu.
“Pacarku ini Beng suka gak tahan dengan yang lucu lucu, makanya suka tertawa
ngakak,” ujar Uki berpromosi..“Gak ah, biasa aja kale,” jawabku sambil menatap
mata Abeng. Namun balasan tatapan mata Abeng kurasa sangat lain dari biasanya
dan serasa menembus jantungku. “Degup..degup.” bunyi jantungku. Tapi aku tetap
mengontrol diri agar Uki tidak merasa cemburu. Sering Abeng mencuri curi
pandang wajahku dan kutahu itu. Sering hatiku bergetar ketika mataku beradu
pandang dengan Abeng. “Ini tidak mungkin terjadi, aku hanya kekasih Uki,
lagian, aku merasa minder juga karena Abeng turunan anak orang kaya dan masih
membedakan antara simiskin dan sikaya,” terucap perang di batinku.
Tiga hari kemudian, aktivitasku
dikampus berjalan normal. Aku bertemu Abeng di kantin Kampus. “Er, mana Uki,”
tanya Abeng..“Jam segini paling dia lagi tidur, tadi dia sms, dua jam lagi ke
kampus” jawabku sekenanya. Kamipun memesan makanan dengan selera yang sama
sambil bicara ringan soal kampus ini. Aku tidak ingin menatap mata Abeng dan
lebih banyak menunduk dan membuang pandangan meski aku tahu Abeng sangat
memperhatikan aku. “Er, boleh gak suatu waktu kamu nemeni aku shoping ke Mall.
Gak enakan kalau pergi sendirian,” ajak Abeng..“Oh..boleh,boleh..kapan tuh,”
jawabku. “Nanti saya kabari, kalau boleh aku minta nomor Hp kmu Er,” pinta
Abeng. Aku pun memberikan no Hp ku..Yah..kalimat shoping sangat indah terdengar
bagi semua kaum wanita di dunia ini. Shoping sama halnya dengan acara
menghambur hamburkan uang dan itu sangat dipuja puja para kaum hawa.
Bangun tidur di pagi hari ku raih Hp
ku. Tidak ada satupun panggilan maupun sms yang masuk. Aktivitas kampuspun
tidak ada hari ini, jadi aku malas malasan dirumah. “Uhh..akh,” suara
sepontanku ketika aku meluruskan anggota badanku agar terasa longgar
persendianku. “Jika cinta diaaa..jujurlah padanyaaa..,” bunyi lagu Geisa di dering
Hp membuatku tersentak kaget. “Er, pagi ini aku berangkat ke Siantar ya, mau
lihat kakek nenek, belum tahu berapa hari disana,” ujar Uki dari balik Hp nya..“Okey
lah, hati hati di jalan ya,” pesanku padanya. Hilang sudah semangatku dan aku pun
menarik bantal lagi ingin melanjutkan tidur kembali.
Setengah jam kemudian, Hp ku
mengeluarkan lagu itu lagi pertanda ada panggilan masuk. Hingga tiga kali
panggilan masuk tidak kuangkat angkat angkat. Yah..badanku terlalu capek perlu
istirahat yang banyak…huff.. kuraih Hp ingin ku Off kan agar waktu istirahatku
tidak terganggu. Sebelumnya akupun ingin tahu siapa yang nelpon tadi.
Duh..ternyata Abeng, ada apa ni anak pagi pagi sudah nelpon. Akupun tak
perduli. Ketika jariku akan menekan tombol Off..dan Hp ku berdering lagi. Abeng
lagi..abeng lagi. “Halo Beng, kok pagi pagi gini sudah telpon, ada apa tuh ?,”
tanyaku..“Ya Er..hari inikan tidak ada aktivitas kampus, bagaimana kalau nanti
jam 2 siang kamu temeni aku shoping, tapi apa kamu sudah ada rencana sama Uki,”
kata Abeng. He..eh..dengar kata shoping pikirankupun jadi ngeres. “Uki pergi ke
Siantar beberapa hari ini Beng, ya boleh la aku temeni, tapi aku juga nebeng
shopingnya ya Beng,” ucap candaku. Kamipun tertawa, sekitar 15 menit kami
telponan. Dan akupun siap lakukan bersih bersih.
Tiba jam 2 Hp ku berdering. “Er, aku
jemput kamu dirumah ya,” ajak Abeng. Duh..duh..duh..gimana nih kalau sampai ada
temen Uki yang tahu aku dijemput Abeng, uhh..jadi bingung gini. “Gak usah Beng,
kita ketemuan di Tamrin Plaza di lantai satu di café itu aja ya,” elaku..“Okey,
cepat ya,” desak Abeng.
“Dorrrr,” ku tepuk bahu Abeng yang
duduk gelisah menantiku di café itu. “Ehhhh..Bikin kaget aja,” ujar Abeng
tersenyum. Kamipun mengobrol panjang sebelum acara shoping shopingan. “Er, kamu
cantik sekali hari ini,” ucap abeng sambil memegang tanganku..“ih, ada apa dengan
kamu Beng,” protesku namun merasa penasaran..”Aku tahu kamu pacar Uki, tapi aku
juga suka dengan kamu, aku ingin menjadi pacar ke dua kamu Er,” ucap Abeng
sedikit terbata..”Duh Beng, kita berteman saja ya,” ucapku sambil memberanikan
diri menatap mata Abeng..”Baiklah,” ujar Abeng dengan nada sedikit kecewa.
Selanjutnya kamipun beranjak dari café itu menuju lantai 3 dan 4. Acara shoping
pun di mulai.
“Er, kamu pilih saja barang barang yang
kamu suka,” saran Abeng. Tanpa dikomando lagi akupun mengambil beberapa helai
tenktop dan beberapa helai celana ketat dan mencobanya di kamar ganti. “Abeng
coba kesini, pakaian ini cocok nggak,” ucapku..”Er, kamu cantik dan seksi,”
ucap Abeng memuji. Akupun mengambil pakaian itu. Kamipun menyusuri lorong
lorong stand lainya di Mall itu. Tiba tiba Abeng meremas tanganku dan tanpa
protes aku diam saja. Duh..Abeng makin berani saja. Dan ia merangkul bahuku
sambil melihat barang lainya disalah satu sudut Mall. Ada perasaan berdebar dan
suka saat itu. Abeng sangat memanjakan aku..yah..romantis sekali, dan aku tak
kuasa menahanya. Selalu ia membisikan kata kata sayang ditelingaku. “ Say,
sudah yuk, ntar terlalu banyak belanjaan gak bisa bawanya,” ucapnya
ditelingaku. Kurasakan hembusan nafasnya ketika mengucapkan kata kata
itu..”Baiklah, nggak trasa hari juga semakin malam ni, lagian capek juga ni,”
ujarku. Kamipun pulang, dan Abeng mengantarkanku sampai kerumah ku. “Beng
mampir dong, biar kubuat minuman, kan kamu capek,” ajaku dan di iyakan Abeng. Didalam
rumah, adik adiku sudah tidur, sedang orang tuaku asik menonton sinetron
ditelevisi kesayanganya. “Kurang asik disini Beng,” ucapku sambil mengajak
Abeng melankah keluar. Kamipun ngobrol di taman depan rumahku yang banyak ditumbuhi
pepohonan dengan cahayanya temaram remang remang. “Silakan minum Beng,”
uajarku. Kamipun bercerita dan saling tukar pikiran. Ternyata Abeng cukup
dewasa dan kata katanya sangat romantic. Sering aku terbuai mendengar kata katanya
hingga akhirnya Abeng merangkul bahuku ingin memeluk ku. “Er, aku sayang kamu,
kamu benar benar wanita idamanku,” ucap Abeng. Ada perasaan damai dihatiku,
entah ada perasaan apa dan akupun merebahkan kepalaku didadanya. Abengpun
membalasnya dengan pelukan. Ada perasaan damai dan Abeng seperti memanjakan aku
yang seakan aku ini miliknya.
Ia mengelus rambutku yang panjang
terurai. Aku terbuai dibuatnya. “Er sayang,” ujarnya sambil mengangkat dagunya.
Kamipun bertatapan dan entah siapa yang mulai bibir kami sudah menempel dengan
hangatnya. Aku haus dengan kasih sayang karena selama ini Uki tidak pernah lagi
memberikan kasih sayangya dan malah seakan menghindar dari ku. “Oughhh,”
desahku ketika bibir Abeng melumat bibirku, akupun membalas lumatan itu bahkan
lumatanku lebih liar dari Abeng. “Er, sudah Er,” bisik Abeng. Akupun tidak
perduli lagi dengan ucapan Abeng. Terus..terus.terus..lumatanku semangkin
membuat Abeng terengah engah. Pikiranku bercampur aduk antara nafsu dan
kebencianku terhadap Uki, dan yang ada kini hanya Abeng. Yah..benih benih
kebencianku terhadap Uki semangkin timbul ketika Uki seperti cuek saja ketika
aku mengajaknya untuk menikah. “Nanti dan nanti,” itu ucapan yang selalu
dikatakanya.
“Sudah Er,” ujar Abeng menyadarkan aku.
Kedua tanganya memegang kepalaku. “Ada apa sama kamu Er,” ujar Abeng heran.
“Bukankah kamu sayang padaku, bukankah kamu ingin menjadi pacar ke 2 ku,”
ujarku sambil meneteskan air mata..”Maksud kamu ?,” tanya Abeng. Aku pun
menceritakan seperti apa hubunganku dengan Uki selama ini. “Apa kamu mau
menerimaku seperti ini Beng ?,” tanyaku. Iapun memperhatikan aku sejenak. “Er,
kamu cantik, kamu wanita yang sempurna dimataku. Aku mau menerimamu, menikahi
kamu, dan membahagiakan kamu,” ucap Abeng tegas..” Kalimat mu sangat bagus Beng,
aku takut semua itu hanya mimpi,” ujarku sambil wajahku berpaling.
“Tidak Er, tapi bagaimana hubungan
kamu denga Uki saat ini ?,” tanya Abeng..” Jika kamu serius aku akan
memutuskanya, tapi kalau aku hanya menjadi bonekamu lebih baik kamu pulang saja
dan detik ini juga lupakan semua yang terjadi diantara kita, dan aku tidak akan
pernah lagi ingin bertemu dengan kamu ,” ujarku sambil menatap tajam..Abeng pun
mendekatkan wajahnya. ”Okey sayang, kamu putusin Uki secepatnya, dan kita segera
menikah,” jawab Abeng menatapku serius. Akupun menangis dan memeluk Abeng Erat
erat.
Abeng membalas pelukan ku, dan kamipun tidak
perduli lagi jika saat ini kami berada ditaman depan rumahku. Yah..pelukan
kebahagiaan hubungan ini semangkin melupakan segalanya, hanya ada aku dan
Abeng. Perlahan lahan bibir Abeng menyentuh leher jenjangku. “ih..geli ahhh,”
ujarku manja. Bibir Abeng terus menciumiku. Aku ambruk dipelukan Abeng dengan dengan
mesranya. “Er, aku sayang dan cinta kamu. Aku ingin sekali kita cepat cepat
menikah,” bisik Abeng ditelingaku. Aku peluk Abeng erat erat tanpa ada terucap
kata kata di bibirku. Malam semangkin larut. “Eeeer..masuk. Sudah malam nih,”
suara ibuku dari depan pintu. “Ya ma, jawabku.
Hari hari kulalui bersama Abeng cukup
indah dan romantis. Ku akui Abeng cukup perhatian dan tidak pelit padaku.
Buktinya, apa yang aku inginkan pasti di kabulkanya. “Er, apa Uki masih di
Siantar ?..bagaimana hubungan kamu dengan Uki, aku tidak ingin diduakan,” canda
Abeng dikapus..”Tadi siang ia sudah tiba di Medan, nanti malam aku ketemu dia,”
ujarku. Raut wajah Abeng menampakan wajah kecemasan. “Pasti semuanya baik baik
saja sayang,” ucapku meyakinkanya.
Pukul 8 malam Uki menjemptku ke rumahku.
“Er, yuk kita kongkow di café depan stadion teladan,” ajaknya..”Gak ah, aku
lagi males, kita duduk ditaman depan rumah aja,” elak ku..Ada raut kesal
diwajah Uki karena menolak ajakanya. Kamipun akhirnya duduk ditaman depan
rumah. Diam dalam kebisuan, inilah suasana yang tidak enak kurasakan bersama
Uki saat ini. Tiba tiba tanganya menggenggam tanganku dan wajahya mendekat ke
wajahku. Lama kami bertatapan dan bibirnya ingin mendaratkan ciuman. Kupalingkan
wajahku dan menghentak tanganku agar terlepas dari genggamanya.
“Ada apa ini Er,” ucap Uki marah..”Malam
ini aku hanya ingin bicara tentang keseriusan kamu dan masa depan kita,” ucapku
tegas..”Maksud kamu,” ucapnya sambil memelototkan mata..”Kamu sudah berubah ya,
okey, hubungan kita sudah berjalan terlalu lama, aku ingin kepastian kapan kamu
akan menikahi aku, tolong beri aku keputusan malam ini,” ujarku dengan suara
memelas dengan meneteskan air mata..”Yah nanti lah kalau sudah ada dana nya,
lagian aku kan belum kerja, apa lagi saat ini aku kan sibuk dengan kuliah,”
ujarnya enteng. Air mataku bertambah deras mendengar ucapanya itu, terasa sakit
dan pedih. Namun akuterus mendesak menanyakan kapan pernikahan itu akan
terjadi. “Plakkk,” satu tamparan tangan Uki mendarat di pipiku. “Apa kamu tidak
sabar ya !, Okey, sekarang apa mau kamu,” ujar Uki marah. Begitu sakit
perasaanku diperlakukan seperti ini.
Akupun berdiri menghadapya. “Baiklah, kalau
kamu tidak bisa memberi keputusan malan ini, aku yang akan memberi keputusan
malam ini,” ujarku berubah garang..”Maksud kamu ?,” ucap Uki tegang..”Yah..mulai
detik ini kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi, kita putus, aku benci
dengan ketidak pastian hubungan ini. Kamu pergi dari sini dan jangan pernah
hubungi aku lagi. Pergilah sebelum jeritanku akan membuat orang dikampung ini
datang,” ancamku..”Baik Er kalau itu yang kamu inginkan, dan kamu jangan pernah
menyesal,” Uki balik mengancam dan pergi meninggalkanku ditaman.
Kurebahkan tubuhku dibangku taman.
Kutatap rembulan yang separuhnya dibayangi awan. “Oh rembulan, cinta ini
membuatku sakit,” ucap hatiku, dan air mataku mengalir deras. Ada perasaan
menyesal, pedih, perih, menjadi satu bergejolak perang didalam hati. Perlahan
rembulanpun tertutup awan dan langit menjadi gelap.
Dua hari
kemudian aku bertemu Abeng di kantin kampus. “Kemana Uki, Er,” tanya Abeng..”Gak
tahu,” jawabku. Abeng melihat wajahku yang murung ini, dan aku ceritakan semua
yang telah terjadi bersama Uki malam itu..”Kamu beneran putus dengan Uki, Er,”
tanya Abeng..”Yah,” jawabku mantap sambil menatap Abeng. “ Okey, kalau gitu
kita secepatnya menikah, aku takut kehilanganmu,” ucap Abeng tersenyum. Abeng
pun menceritakan jika hubungan ia dengan Uki kini menjadi renggang akhir akhir
ini. Uki merasa malu karena tidak mampu mengembalikan hutang hutangnya selama
ini. “Jadi dia suka minjam uang sama kamu Beng,” tanyaku..”Yah sudahlah, akupun
tidak mempermasalahkan hutang itu,” terang Abeng.
Hubungan percintaanku dengan Abeng
semangkin romantis saja. Tiga bulan kemudian Abeng melamarku. Dan kamipun
menikah tepat di bulan purnama. Bulan ini kupilih karena cahayanya selalu
menemaniku disetiap suka dan duka ku. Tahun berganti tahun, aku hidup bahagia
bersama Abeng. Dan kini aku memiliki dua orang anak, seorang putra dan seorang putri,
bahagia sekali hidup ini.
Namun kini kebahagiaanku berubah
total. Aku memergoki Abeng bersama Wanita Idaman Lain (WIL). Terasa hancur
kebahagiaanku bersama Abeng. “Kenapa kamu tega berbuat seperti itu,” ucapku
sambil mencucurkan air mata..”Dia hanya teman,” ujar Abeng enteng. Akupun
mencoba bersabar, dan hari hari selanjutnya Abeng sering telat pulang.
Akupun menghiburkan diri meski hatiku
sakit dan pedih jika mengingat masalah WIL itu. Sejak itu, akupun jadi sering
telpon telponan dengan beberapa pria teman SMU ku. Yah..hanya sebatas telpon
dan SMS an namun tidak pernah bertemu. Itulah hari hariku yang selalu SMS an
menanyakan kabar.
Pada suatu hari, Abeng mengotak atik
HP ku. Diapun marah besar membaca SMS di inbok Hp ku. “Kamu berselingkuh ya,”
ucapnya dengan nada keras. Aku pun membantahnya, dan kujelaskan semua pokok
persoalanya. “ Aku tidak mau tahu,” ucap Abeng menunjukan ke egoisanya. Aku pun
bersimpuh padanya sambil meminta maaf jika itu menyakitkanya. Yah..aku mengalah..mengalah
untuk menang. Akhirnya Abeng membuat aturanya sendiri yang membuatku seperti
terpenjara. Aku tidak boleh keluar rumah untuk berkumpul dengan teman temanku
baik acara arisan maupun kegiatan diluar rumah lainya. Tugasku hanya mengurus
rumah dan anak anak ku yang semangkin tumbuh besar. Sementara Abeng berbuat
semaunya diluaran, baik pulang kerumah maupun sering tidak pulang kerumah. Aku tetap
bersabar..aturan yang dibuatnya itu sungguh kelewat batas dan menghakimi ku..aku
tetap bersabar..bersabar..dan bersabar.
Dikeheningan malam di dalam kesedihan
kutatap langit..ups’t..ternyata bulan purnama telah tiba. Aku teringat pada
masa masa dahulu ketika aku menjalani percintaan yang bahagia baik suka maupun
duka, cahaya rembulan itu selalu menemani ku. Dan saat ini aku menangis..Oh Rembulan..kapan
derita ini akan segera berakhir..Oh Rembulan..kapan cinta itu datang kembali.
(By: OPOSISI KEPRI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar